PANGKALPINANG, IRRO – Bermula dari sebuah industri rumahan dengan hanya satu mesin penggiling cokelat, Cokelat CandU perlahan tumbuh menjadi produsen cokelat artisan yang membawa misi lebih besar bagi kakao lokal Bangka Belitung.
Usaha yang dirintis Merinda Haris, atau akrab disapa Meri, sejak 2020 itu melewati perjalanan panjang. Dari proses produksi yang masih dikerjakan secara manual, membangun pasar melalui penjualan online, hingga akhirnya memiliki toko offline dan rumah produksi sendiri pada 2025.
Enam tahun perjalanan tersebut bukan hanya tentang mengembangkan bisnis cokelat, tetapi juga tentang bagaimana Meri memperdalam pengetahuan, memperluas jaringan, dan memperjuangkan agar kakao lokal memiliki nilai tambah di daerahnya sendiri.
Meri menceritakan, pada awal berdiri hingga 2024, Cokelat CandU masih beroperasi sebagai industri rumahan. Saat itu, fasilitas produksi sangat terbatas karena hanya memiliki satu mesin, yakni mesin penggilingan cokelat.
Sementara tahapan lainnya, seperti pemanggangan biji kakao atau roasting dan pemecahan biji atau cracking, masih dilakukan secara manual.
“2020 sampai 2024 kita industri rumahan dan hanya bermodalkan satu mesin. Jadi proses yang lain masih manual, seperti roasting masih pakai oven, cracking masih ditumbuk-tumbuk sendiri,” ungkap Meri, Sabtu (31/10/2026).
Meski demikian, Cokelat CandU terus membangun pasar melalui penjualan online. Bahkan, sebagian besar konsumennya berasal dari luar Bangka.
Menariknya, keputusan membuka toko offline justru muncul setelah salah satu konten Cokelat CandU viral di Instagram. Banyak warganet yang baru mengetahui bahwa produk tersebut berasal dari Bangka dan mulai bertanya mengenai lokasi tokonya.
Pengalaman itu membuat Meri menyadari bahwa produk cokelat lokal yang dipasarkan hingga luar daerah ternyata belum banyak dikenal masyarakat di tempat asalnya sendiri.
Pada 2025, Cokelat CandU akhirnya membuka toko offline. Tempat tersebut sekaligus menjadi rumah produksi dengan pembagian fungsi, toko berada di lantai bawah dan ruang produksi di lantai atas.
Seiring perkembangan usaha, fasilitas pengolahan cokelat pun semakin lengkap. Jika sebelumnya sebagian besar proses dilakukan secara manual, kini Cokelat CandU telah memiliki rangkaian mesin untuk mendukung pengolahan biji kakao menjadi cokelat.
Di balik perkembangan Cokelat CandU, ada perjalanan Meri dalam mendalami dunia cokelat. Baginya, membuat cokelat berkualitas tidak cukup hanya dengan menguasai teknik mengolah bahan menjadi produk jadi.
Ia mengawali pembelajaran melalui sertifikasi masterclass confectionery di Academy Pastry and Culinary Arts (APCA). Dari sana, ia mulai memahami bahwa kualitas dan cita rasa cokelat juga sangat dipengaruhi asal-usul serta proses pengolahan biji kakao.
Keinginan untuk memahami proses dari hulu kemudian membawanya mengikuti pelatihan pengolahan cokelat dari biji kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember.
Perjalanan belajarnya berlanjut ke Sulawesi. Meri dua kali mengikuti pembelajaran di daerah tersebut, masing-masing selama satu bulan dan dua minggu, untuk mendapatkan sertifikasi agronomi dan agribisnis kakao.
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa cita rasa cokelat tidak hanya ditentukan oleh proses produksi, tetapi sudah dimulai sejak biji kakao ditanam, dirawat, hingga dipanen.
Ilmu yang diperoleh kemudian tidak hanya diterapkan untuk mengembangkan Cokelat CandU. Meri juga membagikannya melalui berbagai kegiatan, termasuk mengisi pelatihan pengolahan cokelat di Sabang, Aceh, selama lima hari atas undangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sabang.
Ia juga pernah menjadi konsultan pengolahan cokelat di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Bagi Meri, kecintaannya terhadap cokelat menjadi alasan untuk terus belajar sekaligus membagikan pengetahuan kepada lebih banyak orang.
Ditahun 2026, Cokelat CandU mulai memperluas perannya melalui edukasi dan kolaborasi. Meri ingin masyarakat Bangka Belitung lebih mengenal cokelat artisan, terutama produk yang dibuat langsung dari biji kakao lokal.
Menurutnya, cokelat asli dari biji kakao memiliki karakter rasa yang berbeda dari cokelat yang umum dijumpai di pasaran. Ada rasa pahit, asam, hingga sepat yang perlu dipahami masyarakat.
Untuk memperkenalkan karakter tersebut, Cokelat CandU menggelar roadshow ke empat perguruan tinggi di Bangka, yakni Universitas Bangka Belitung (UBB), Universitas Pertiba, Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel), dan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa diperkenalkan dengan biji kakao, rangkaian mesin, proses pengolahan, hingga mencicipi cokelat yang dihasilkan.
Cokelat CandU juga telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan UBB dan Polman Babel untuk kerja sama tridarma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah kegiatan terkait pengolahan dan hilirisasi kakao di Bangka pun mulai berjalan.
Namun, salah satu tujuan besar yang ingin dicapai Meri adalah membangun hubungan yang saling menguntungkan antara produsen cokelat dan petani kakao.
Saat ini, Cokelat CandU telah mendapatkan pasokan kakao dari empat desa di Bangka dan Bangka Selatan, termasuk Maras Senang, Tepus, dan Rias.
Ia berharap semakin banyak masyarakat mengonsumsi cokelat yang menggunakan biji kakao lokal. Dengan begitu, kebutuhan bahan baku produksi dapat ikut meningkat dan hasil kebun petani semakin terserap.
“Setiap satu batang cokelat yang dimakan oleh orang-orang di Bangka itu sama dengan kakao-kakao petani yang terserap. Karena kita pakainya biji kakao lokal,” jelasnya.
Meri ingin perkembangan Cokelat CandU tidak hanya berhenti pada pertumbuhan usaha. Ia berharap semakin banyak kakao dari desa-desa di Bangka Belitung yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Dari satu mesin penggiling di rumah hingga memiliki toko dan rumah produksi, perjalanan Cokelat CandU selama enam tahun menjadi bagian dari upaya Meri memperkenalkan potensi kakao Bangka Belitung.
Kini, mimpi yang dibangun bukan sekadar membuat cokelat lokal semakin dikenal, tetapi juga menjadikan industri pengolahan kakao sebagai peluang yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, termasuk oleh para petani.




