Pangkalpinang, IrroNews.com – Di saat sebagian besar masyarakat Bangka Belitung menggantungkan hidup dari perkebunan sawit, Doni Rozal justru memilih jalan berbeda. Ia mengembangkan budidaya pohon aren, komoditas yang kini mulai menunjukkan potensi ekonomi menjanjikan sekaligus memiliki manfaat bagi lingkungan.
Keputusan menanam aren tidak lahir dari perencanaan matang. Doni mengaku awalnya hanya mengikuti saran Kepala Dinas Pertanian yang saat itu memperkenalkan tanaman aren sebagai alternatif usaha perkebunan.
“Awalnya kami tidak tahu apa-apa soal aren. Tahunya hanya sawit. Waktu itu disarankan untuk mencoba menanam aren, akhirnya kami tanam saja,” kata Doni saat ditemui di kebunnya, Minggu (14/6/2026).
Bibit aren kemudian ditanam mengelilingi batas lahan miliknya. Saat itu, ia bahkan tidak memiliki bayangan bagaimana cara memanen atau memanfaatkan hasil tanaman tersebut.
“Tujuannya dulu hanya untuk ditanam di pinggir lahan. Kami tidak pernah berpikir suatu saat akan menyadap dan menjual hasilnya,” ujarnya.
Seiring waktu, pohon-pohon aren yang ditanam mulai tumbuh besar. Doni kemudian mulai mempelajari berbagai informasi tentang tanaman tersebut, termasuk manfaat ekonomi yang bisa diperoleh dari hasil niranya.
Saat ini, dari sekitar 56 pohon yang pernah ditanam, tersisa sekitar 40 batang setelah sebagian mati dan terdampak kebakaran. Pohon-pohon tersebut merupakan jenis aren genjah yang memiliki masa produktif lebih cepat dibandingkan aren lokal.
Jika aren lokal membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sepuluh tahun untuk bisa disadap, aren genjah dapat mulai dipanen pada usia sekitar lima tahun.
Menurut Doni, salah satu alasan dirinya semakin yakin mengembangkan aren adalah biaya perawatannya yang relatif rendah.
“Kalau sawit harus rutin dipupuk. Aren tidak. Setelah ditanam, dia bisa tumbuh sampai menghasilkan tanpa perawatan yang rumit,” jelasnya.
Selain itu, aren juga tidak membutuhkan lahan yang sangat luas. Dalam satu hektare lahan, petani dapat menanam hingga sekitar 400 pohon dengan jarak tanam lima meter.

Belajar Menyadap dari Generasi Tua
Ketika pohon-pohon aren miliknya mulai memasuki masa produktif, Doni menghadapi tantangan baru. Ia harus belajar menyadap nira, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia kemudian mencari informasi dan belajar dari masyarakat yang masih memiliki pengalaman mengolah aren.
“Kami mencari orang-orang tua yang dulu pernah membuat gula aren. Karena sekarang sudah jarang yang menanam aren, banyak yang beralih ke sawit,” katanya.
Menurut Doni, proses penyadapan aren tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebelum menghasilkan nira, bunga jantan atau manggar harus melalui tahapan pengayunan dan pemukulan selama beberapa minggu agar siap disadap.
Setelah itu dilakukan proses pemeraman sebelum nira mulai menetes dan dapat dipanen setiap hari.
“Kalau sudah siap, penyadapan dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.
Produksi Capai 25 Liter per Pohon
Usaha yang dijalankan Doni kini mulai membuahkan hasil. Satu pohon aren produktif mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 25 liter nira setiap hari.
Nira tersebut saat ini dijual langsung kepada masyarakat dengan harga Rp15.000 per liter.
Meski masih menjual dalam bentuk nira segar, Doni melihat peluang yang jauh lebih besar dari produk turunan aren.
Nira dapat diolah menjadi gula cair yang banyak digunakan oleh kedai kopi dan kafe sebagai bahan pemanis alami. Produk tersebut memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan nira segar.
“Harga gula cair bisa mencapai Rp40.000 per liter. Banyak kafe yang membutuhkan untuk campuran kopi gula aren,” jelasnya.
Selain gula cair, nira juga dapat diolah menjadi gula aren cetak yang banyak digunakan untuk kebutuhan kuliner.

Tanaman yang Hampir Tak Ada yang Terbuang
Bagi Doni, keistimewaan aren tidak hanya terletak pada niranya. Hampir seluruh bagian pohon memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Ijuk dapat dimanfaatkan untuk membuat sapu, keset, hingga penyaring air. Daunnya bisa digunakan sebagai bahan atap, sementara bagian lain juga memiliki berbagai kegunaan bagi masyarakat.
“Kalau dilihat, hampir semua bagian pohon aren bisa dimanfaatkan. Tidak hanya air niranya saja,” katanya.
Selain bernilai ekonomi, Doni menilai aren juga memiliki manfaat lingkungan yang besar. Ia menyebut tanaman tersebut mampu membantu menyimpan cadangan air di dalam tanah sehingga cocok dikembangkan sebagai tanaman konservasi.
Melihat potensi tersebut, Doni optimistis aren dapat menjadi salah satu komoditas unggulan baru di Bangka Belitung. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mulai melirik tanaman yang selama ini kalah populer dibandingkan sawit tersebut.
“Dulu saya juga tidak tahu apa-apa soal aren. Sekarang setelah merasakan sendiri hasilnya, saya melihat tanaman ini punya masa depan yang sangat baik,” katanya

Selain mengembangkan budidaya aren, Doni juga mulai merancang pembentukan Komunitas Aren yang melibatkan pengurus dan anggota Mualaf Center Indonesia Peduli Provinsi Bangka Belitung. Komunitas tersebut diharapkan menjadi wadah pembinaan sekaligus pelatihan bagi para mualaf yang belum mempunyai pekerjaan maupun sumber penghasilan tetap.
“Nantinya mualaf-mualaf yang belum mempunyai pekerjaan akan kita bina dan latih disini, mereka bisa belajar menanam, merawat menyadap sampai mengelolah hasil aren menjadi produk yang mempunyai nilai jual,” tutupnya










