PANGKALPINANG, IRRO — Kentra Festival Pengkal tak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni. Festival ini juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesenian tradisional khas Pangkalpinang agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Sebanyak 30 sanggar seni dilibatkan dalam festival tersebut. Selama pelaksanaannya, kesenian yang ditampilkan difokuskan pada seni tradisional, bukan pertunjukan yang telah dikembangkan menjadi semi-modern.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Pangkalpinang, Ratna Purnamasari, yang dikenal dengan sapaan Bunda Tudung Saji, menjelaskan bahwa pemilihan konsep tersebut dilakukan untuk memberikan ruang khusus bagi kesenian tradisional daerah.
Menurutnya, sanggar seni di Pangkalpinang jumlahnya mencapai lebih dari 60. Namun, dalam festival kali ini, hanya 30 sanggar yang dilibatkan sesuai dengan konsep pertunjukan yang telah ditetapkan.
“Untuk yang spesialnya pentas festival ini, kita menampilkan kesenian tradisional Pangkalpinang semua. Jadi semuanya tradisional,” ujar Ratna, Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan, sanggar yang dilibatkan rata-rata telah berusia lebih dari 10 tahun. Sementara itu, sanggar yang mengembangkan pertunjukan dengan sentuhan semi-modern tidak masuk dalam konsep festival kali ini.
Ratna menegaskan, pengembangan kesenian tradisional menjadi lebih modern tetap diperbolehkan. Namun, Kentra Festival Pengkal secara khusus diarahkan untuk memperkenalkan kesenian tradisional yang menjadi ciri khas Pangkalpinang.
“Di balik konsep tersebut, terdapat upaya untuk mengenalkan kembali kesenian tradisional agar lebih dekat dengan kehidupan generasi muda,” ujarnya.
Ratna mencontohkan seni tari yang telah berkembang sejak sekitar 1960-an. Kesenian tersebut ditelusuri kembali melalui riset, kemudian direka ulang agar dapat diterima oleh anak-anak masa kini.
Salah satu upaya itu dilakukan melalui sanggar BTD Bedapuran, mulai dari proses riset hingga pengenalan hasil pengembangan kepada anak-anak.
Menurut Ratna, pendekatan tersebut mendapatkan respons positif. Anak-anak dinilai menyukai kesenian yang diperkenalkan kepada mereka, terlebih ketika penyajiannya disesuaikan dengan karakter pendengar masa kini.
Ia juga mencontohkan musik dambus yang dapat dikemas dengan sentuhan modern untuk menarik minat generasi muda.
“Bagi saya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukan yang sudah ada. Diperlukan pula upaya untuk memperkenalkan, mengajarkan, dan menumbuhkan ketertarikan generasi penerus terhadap kesenian daerah,” katanya.
Upaya menjaga kebudayaan lokal juga dilakukan melalui inovasi daerah bertajuk Membangun Kebudayaan Daerah dari Sekolah, yang mulai dikembangkan pada 2022.
Ratna menyebutkan, program tersebut memiliki sejumlah kegiatan, di antaranya Dambus Masuk Sekolah, Budayawan dan Sejarawan Masuk Sekolah, serta Pangkal Heritage Bekecak.
Dambus Masuk Sekolah menjadi salah satu program prioritas. Pelaksanaannya berlangsung selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September, melalui proses pembelajaran di sekolah.
Hasil pembelajaran tersebut kemudian ditampilkan dalam pagelaran Dambus Pelajar. Kegiatan itu juga dikemas dalam bentuk perlombaan agar para peserta memiliki motivasi lebih untuk belajar dan menunjukkan kemampuan mereka.
Ratna menilai, kegiatan kebudayaan yang hanya berupa pertunjukan berpotensi kurang memberikan dorongan bagi peserta untuk terus terlibat. Karena itu, kompetisi dipilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan semangat pelajar.
Meski berbagai upaya dilakukan, penyelenggaraan kegiatan kebudayaan masih menghadapi tantangan pembiayaan.
Ratna mengakui, anggaran yang tersedia melalui pagu pemerintah daerah untuk kegiatan tersebut sangat terbatas. Dukungan dari dunia usaha pun menjadi salah satu faktor penting agar festival dapat terlaksana.
Ia mengatakan, Kentra Festival Pengkal tidak akan berjalan tanpa bantuan lima sponsor yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, dukungan perusahaan menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam mendukung kegiatan yang berkaitan dengan kearifan lokal.
Ratna juga mengungkapkan, para pelaku seni tetap bersedia berpartisipasi meskipun rata-rata tidak mendapatkan uang saku.
“Kalau dilihat kan duitnya gede ya, tapi sebenarnya yang gede adalah semangat,” katanya.
Melalui Kentra Festival Pengkal dan program kebudayaan di sekolah, Dindikbud Pangkalpinang berupaya menjaga agar kesenian tradisional tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman.
Tantangannya bukan hanya menghadirkan seni tradisional dalam sebuah festival, tetapi juga memastikan kesenian tersebut terus dikenal dan diminati generasi muda.










