Pangkalpinang, IrroNews.com – Ancaman krisis ekonomi global mulai dibaca tidak hanya dari sisi makro, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara di Pangkalpinang, Sabtu (18/4), isu meningkatnya angka perceraian justru menjadi pintu masuk pembahasan.
Anggota MPR RI sekaligus Presiden PKS, Almuzzammil Yusuf, menilai tingginya angka perceraian di Indonesia merupakan sinyal serius melemahnya ketahanan keluarga, terutama di tengah tekanan ekonomi.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, ia menyebut terdapat 438.168 kasus perceraian, dengan lebih dari 100 ribu di antaranya dipicu persoalan ekonomi.
“Ini bukan sekadar angka, tapi alarm bagi kita semua. Ketika ekonomi terguncang, yang pertama kali retak adalah rumah tangga,” ujarnya.
Menurutnya, krisis global yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat dapat memperparah kondisi tersebut jika tidak diantisipasi dengan kesiapan mental dan spiritual masyarakat.
Dari Krisis Global ke Krisis Keluarga
Almuzzammil menjelaskan, selama ini respons terhadap krisis lebih banyak berfokus pada kebijakan pemerintah, seperti fiskal dan moneter. Namun, ia menilai pendekatan tersebut belum cukup jika tidak diimbangi dengan penguatan di tingkat keluarga.
Ia menekankan bahwa rumah tangga merupakan “benteng terakhir” dalam menjaga stabilitas sosial. Ketika keluarga mampu bertahan, maka dampak krisis bisa ditekan lebih luas.
Ubah Gaya Hidup, Tekan Dampak Krisis
Dalam forum tersebut, ia juga mengajak masyarakat mulai mengubah pola hidup sebagai langkah konkret menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, krisis energi dan ekonomi harus direspons dengan efisiensi dan kesederhanaan.
Ia mencontohkan perubahan perilaku saat pandemi COVID-19 sebagai bukti bahwa masyarakat mampu beradaptasi dengan cepat.
“Sekarang saatnya kita membangun kebiasaan baru yang lebih hemat energi dan sehat, seperti mengurangi ketergantungan kendaraan bermotor,” katanya.
Pancasila Jadi Jawaban Sosial
Forum yang digelar atas kerja sama MPR RI dan PKS Bangka Belitung ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai solusi sosial dalam menghadapi krisis.
Semangat gotong royong dan kesederhanaan dinilai menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara tekanan ekonomi dan ketahanan masyarakat.
Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid bersama sejumlah tokoh daerah dan pimpinan PKS Bangka Belitung.
Diskusi ini memperlihatkan bahwa ancaman krisis global tidak hanya soal angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial yang dimulai dari keluarga.














