PANGKALPINANG, IRRO – Sebanyak 88 kasus baru HIV tercatat di Kota Pangkalpinang hingga September 2026. Angka tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit AIDS, Tuberkulosis, Malaria, dan Hepatitis (ATM-H).
Wali Kota Pangkalpinang, Profesor Saparudin Masyatif, menegaskan penanggulangan ATM-H tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Diperlukan keterlibatan berbagai sektor, mulai dari pemerintah hingga komunitas masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat membuka Pertemuan Lintas Program dan Lintas Sektor dalam rangka Sosialisasi Penguatan Integrasi ATM-H dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Ballroom Grand Safran Hotel Pangkalpinang, Selasa (3/11/2026).
Saparudin membuka kegiatan tersebut melalui sambungan Zoom lantaran tidak dapat hadir secara langsung.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan dari 88 kasus baru HIV, sebanyak 16 kasus merupakan perempuan dan 72 kasus laki-laki. Dari jumlah kasus pada laki-laki tersebut, 48 di antaranya merupakan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).
Selain HIV, tercatat pula 20 pasien AIDS, 15 kasus TB-HIV, 11 kasus malaria, serta 14 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan reaktif Hepatitis B.
Menurut Saparudin, data tersebut harus menjadi perhatian bersama agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih terarah dan tidak hanya berfokus pada pengobatan.
Ia menjelaskan, penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) memiliki tiga fokus utama, yakni pelayanan kesehatan berdasarkan siklus hidup, perluasan jangkauan pelayanan melalui jejaring hingga tingkat kelurahan, serta penguatan pemantauan wilayah melalui dashboard situasi kesehatan kelurahan.
Melalui pendekatan tersebut, koordinasi antara OPD, kecamatan, kelurahan hingga Posyandu diharapkan semakin kuat.
“Kita bisa meningkatkan baik itu koordinasi, sinergi, maupun kolaborasi antara dinas-dinas terkait maupun kecamatan, maupun kelurahan, dan tentu Posyandu,” ujarnya.
Saparudin juga mengajak pihak swasta, BUMN, Baznas, lembaga keagamaan hingga komunitas untuk mengambil bagian dalam upaya penanggulangan ATM-H.
Menurutnya, dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui program kegiatan maupun pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Saya mengharapkan betul pada kita semua agar bisa bersama-sama berkolaborasi dan bersinergi untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus-kasus tersebut,” katanya.
Ia berharap penguatan kerja sama lintas sektor dapat membantu menekan penambahan kasus sekaligus meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kota Pangkalpinang.










