BPBD Pangkalpinang Perkuat Deteksi Dini, Tiga Kecamatan Jadi Fokus Penanganan Karhutla

Pangkalpinang, IrroNews.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Pangkalpinang masih menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kondisi lahan yang mengering selama musim kemarau membuat sejumlah kawasan kini mendapat perhatian khusus.

BPBD Kota Pangkalpinang memetakan tiga kecamatan sebagai wilayah prioritas dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran, yakni Kecamatan Bukit Intan, Gabek dan Gerunggang.

Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedy Revandi, mengatakan pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan kondisi wilayah serta tingginya potensi kebakaran lahan.

“Untuk wilayah prioritas, ada tiga kecamatan yang kita petakan, yaitu Bukit Intan, Gabek dan Gerunggang,” kata Dedy dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Ruang SCR Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Selasa (8/9/2026).

Di Bukit Intan, kawasan Air Itam, Temberan dan Sinar Bulan masuk dalam wilayah yang perlu mendapat perhatian. Sementara di Kecamatan Gabek, titik rawan berada di kawasan Selindung dan Jerambah Gantung.

Adapun di Kecamatan Gerunggang, BPBD memantau kawasan Air Kepala Tujuh serta sejumlah lahan terbuka yang dinilai memiliki risiko kebakaran cukup tinggi.

Pemetaan tersebut menjadi penting mengingat jumlah kejadian kebakaran lahan sepanjang musim kemarau 2026 terbilang tinggi. BPBD mencatat 121 kasus kebakaran lahan selama Agustus, kemudian 13 kasus kembali terjadi hingga September.

“Sejak Agustus ada 121 titik kebakaran lahan yang kita catat di wilayah Kota Pangkalpinang. Untuk September sampai saat ini ada 13 kasus kebakaran lahan,” ujar Dedy.

Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi kebakaran. Suhu tinggi menyebabkan vegetasi, semak dan lahan kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar.

Risiko tersebut semakin besar ketika angin bertiup kencang. Api yang muncul di lahan kering dapat dengan cepat merambat dan meluas ke area lainnya.

“Kalau sudah ada api, kemudian ditambah kondisi angin, penyebarannya bisa lebih cepat,” katanya.

Meski demikian, BPBD menilai faktor manusia tetap menjadi salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian. Kebiasaan membakar sampah atau lahan, maupun membuang puntung rokok sembarangan, dapat menjadi sumber api di tengah kondisi lahan yang kering.

Karena itu, BPBD akan meningkatkan patroli dan deteksi dini di kawasan yang telah dipetakan. Edukasi kepada masyarakat serta pengawasan terhadap wilayah rawan juga akan diperkuat.

“Kita melakukan patroli, deteksi dini, kemudian edukasi kepada masyarakat dan pengawasan di wilayah-wilayah yang rawan,” jelas Dedy.

Selain pencegahan, kecepatan penanganan ketika api mulai muncul juga menjadi perhatian. BPBD berupaya agar setiap laporan kebakaran dapat segera ditindaklanjuti sebelum api meluas.

“Ketika ada kejadian, kita harus bisa merespons lebih cepat supaya kebakaran tidak meluas,” ujarnya.

Dedy menegaskan penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah bersama aparat dan masyarakat harus bergerak secara bersama untuk mengurangi risiko kebakaran.

Kolaborasi tersebut melibatkan BPBD, Damkar, kecamatan, kelurahan dan organisasi perangkat daerah. Dari unsur keamanan terdapat TNI, Polri dan Satpol PP, sedangkan masyarakat dilibatkan melalui RT, RW, relawan, komunitas hingga dunia usaha.

“Penanganannya harus kolaboratif. Pemerintah, aparat dan masyarakat harus bersama-sama,” tegasnya. (dnd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *