JNE Pangkalpinang Perluas Jangkauan ke Desa, UMKM Tak Perlu Repot Antar Paket ke Kota

Pangkalpinang, IrroNews.com - JNE Cabang Pangkalpinang terus memperluas akses layanan logistik hingga ke wilayah pedesaan di Pulau Bangka. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan jaringan kemitraan serta layanan penjemputan paket (pick up) langsung dari lokasi pelaku usaha maupun rumah pelanggan.

Kepala Cabang JNE Pangkalpinang, Asbullah, mengatakan perluasan layanan hingga desa menjadi salah satu upaya JNE untuk memudahkan masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dalam mengirimkan produk ke berbagai daerah.

Menurutnya, pelaku UMKM yang berada di pedesaan tidak harus datang ke kota utama, kecamatan, maupun ibu kota kabupaten hanya untuk menyerahkan paket yang akan dikirim.

“Kami bermitra dengan para UMKM yang ada di desa-desa. Jadi, UMKM yang membutuhkan jasa layanan JNE tidak perlu mengantarkan paketnya sampai ke kota utama, kecamatan, bahkan kota kabupaten. Cukup di desa-desa sekitar mereka,” ujar Asbullah.

Untuk mendukung layanan tersebut, JNE mengoperasikan armada setiap hari melalui jalur sekunder yang menjangkau empat kabupaten di Pulau Bangka, yakni Bangka Tengah, Bangka Selatan, Bangka, dan Bangka Barat.

Armada tersebut tidak hanya menjalankan distribusi paket, tetapi juga dimanfaatkan untuk melakukan penjemputan barang dari mitra-mitra JNE yang berada di wilayah pedesaan.

“Armada kami setiap hari jalan melalui jalur sekunder kami di empat kabupaten yang ada di Bangka. Mereka akan berkeliling untuk memfasilitasi *pick up* barang-barang dari mitra-mitra kami,” jelasnya.

Asbullah memastikan proses pengiriman dilakukan dengan dukungan armada dan sumber daya manusia milik JNE sendiri. Hal ini menurutnya menjadi bagian dari upaya perusahaan memastikan barang pelanggan dapat dikirim secara aman dan nyaman.

Mitra UMKM Capai Puluhan hingga Ratusan

Terkait jumlah UMKM yang telah menjadi mitra, Asbullah menyebut jumlahnya cukup banyak. Meskipun tidak menyebut angka pasti berdasarkan data khusus UMKM, ia memperkirakan jaringan kemitraan JNE dengan pelaku UMKM di Bangka telah mencapai puluhan hingga ratusan.

“Kalau mitra kita mungkin banyak. Kalau secara data mungkin kita tidak spesifik, namun kalau termasuk UMKM bisa tinggal puluhan sampai ratusan kita bermitra dengan UMKM yang ada di Bangka,” katanya.

Kemitraan tersebut tidak hanya dilakukan dengan pelaku UMKM secara langsung. Di sejumlah desa, JNE menggandeng pemilik toko maupun konter sebagai mitra untuk menjadi titik layanan bagi masyarakat sekitar.

Dengan pola tersebut, JNE tidak harus membuka kantor cabang di setiap desa. Masyarakat tetap mendapatkan akses layanan pengiriman melalui mitra yang berada di lingkungan mereka.

“Di pedesaan-pedesaan kami tidak membuka cabang. Kami bermitra dengan yang punya toko atau konter. Di sana kami buka sebagai mitra. Kalau ada potensi UMKM lainnya, itu juga bisa bermitra dengan JNE,” ungkap Asbullah.

Ia mencontohkan kondisi di wilayah Kuran yang menurutnya menunjukkan tingginya pemanfaatan layanan JNE oleh pelaku UMKM setempat. Para pelaku usaha yang menjalankan penjualan secara daring dapat lebih fokus mengembangkan bisnis karena urusan pengiriman dibantu melalui layanan pick up.

“Yang bisa kami support adalah memastikan mereka tidak susah untuk mengirimkan barang-barang, misalnya ketika mereka berjualan secara daring atau online untuk dikirimkan ke luar Pulau Bangka. Mereka hanya fokus dengan jualan mereka, barang mereka akan kami pick up dari rumah,” ujarnya.

Layanan Tetap Dijaga di Tengah Tantangan Operasional

Asbullah mengakui aktivitas operasional di lapangan tidak terlepas dari berbagai tantangan, salah satunya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung mobilitas armada.

Namun, kondisi tersebut tidak sampai mengganggu pelayanan JNE kepada pelanggan. Perusahaan terus melakukan berbagai penyesuaian dan perbaikan operasional agar target pelayanan yang telah dijanjikan tetap dapat dipenuhi.

“Memang sedikit banyak ada kendala karena kami banyak di lapangan dan menggunakan BBM. Namun kami mengantisipasi dan memastikan pelayanan kepada customer tetap terlayani dengan baik dan tidak terganggu,” katanya.

Ia menegaskan, berbagai upaya perbaikan terus dilakukan agar waktu pengiriman yang telah disampaikan kepada pelanggan dapat tetap dipenuhi.

“Yang sudah kami janjikan, yang sudah kami sampaikan kepada pelanggan-pelanggan kami, itu tetap sesuai waktu. Bagaimana di lapangannya, itu yang terus kami improve,” tambahnya.

Hingga saat ini, Asbullah memastikan operasional JNE Pangkalpinang masih berjalan dengan baik dan pelayanan kepada pelanggan tetap dapat diberikan.

“Alhamdulillah, JNE masih terus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan kita. Tidak ada masalah,” tegasnya.

Pengantaran Menyesuaikan Aktivitas Warga Desa

Selain persoalan jangkauan wilayah, kondisi masyarakat di pedesaan juga menjadi perhatian JNE dalam proses pengantaran paket.

Asbullah mengatakan, salah satu kendala yang kerap ditemui adalah penerima tidak berada di rumah ketika kurir datang. Hal ini cukup umum terjadi karena sebagian masyarakat pedesaan bekerja di kebun atau beraktivitas di luar rumah pada siang hari.

Untuk mengatasi hal tersebut, petugas JNE berupaya menyesuaikan waktu pengantaran dengan aktivitas penerima.

“Kadang customer yang beraktivitas di siang hari, mungkin di kebun atau di mana. Sore atau malam hari mereka berada di rumah. Tim kami juga mendeliver pada sore atau malam hari sesuai saat mereka ada di tempat,” jelasnya.

Menurutnya, penyesuaian tersebut dilakukan agar paket tidak langsung dianggap gagal antar hanya karena penerima tidak berada di rumah pada siang hari.

Petugas akan melakukan upaya pengantaran kembali pada waktu yang memungkinkan penerima berada di lokasi.

Paket Tidak Langsung Diretur

Asbullah juga menjelaskan prosedur yang dilakukan apabila kurir mengalami kesulitan menemukan alamat penerima atau tidak dapat menghubungi nomor telepon yang tercantum pada paket.

Ia menegaskan JNE memiliki SOP yang mengharuskan petugas melakukan sejumlah langkah terlebih dahulu sebelum barang diputuskan untuk dikembalikan kepada pengirim.

“Kalau barang itu memang menjadi tugas kami, barang jangan sampai dikembalikan. Karena jika barang dikembalikan, ada juga kerugian. Pengirim sudah membayar ongkos kirim, ternyata barangnya kembali lagi,” jelasnya.

Petugas akan melakukan koordinasi secara berlapis. Langkah awal dilakukan dengan menghubungi penerima melalui nomor telepon yang tercantum pada paket.

Jika nomor tersebut tidak dapat dihubungi, petugas akan mencari informasi tambahan dari lingkungan sekitar, termasuk menanyakan kepada warga, RT, kantor desa atau kelurahan maupun pemerintah setempat.

Apabila penerima tetap tidak ditemukan, JNE selanjutnya akan berkoordinasi dengan pihak pengirim.

“Kalau di penerima kami tidak menemukan dan menjadi kendala, kami akan berhubungan dengan pengirim. Kalau pengirim mengatakan memang tidak bisa berhubungan dengan penerima, barang baru kami retur ke pengirim setelah ada persetujuan,” ungkap Asbullah.

Ia menambahkan, mekanisme tersebut dilakukan karena JNE pada dasarnya berada pada posisi sebagai penghubung antara pengirim dan penerima. Karena itu, setiap kendala pengiriman akan diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu sebelum keputusan pengembalian barang dilakukan.

Dengan perluasan jaringan kemitraan, layanan pick up, armada yang menjangkau jalur sekunder hingga penyesuaian proses pengantaran, JNE Pangkalpinang berupaya memastikan masyarakat di wilayah pedesaan tetap memperoleh akses layanan logistik yang mudah.

Langkah tersebut sekaligus menjadi dukungan bagi UMKM di Bangka agar dapat memperluas pasar melalui penjualan secara daring tanpa harus terbebani persoalan distribusi barang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *