Tak Ingin Petani Bergantung pada Pasokan Luar, UBB Dorong Kemandirian Pangan dari Desa

BANGKA, IRRO – Kemandirian pangan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Desa yang mampu memenuhi kebutuhan beras warganya sendiri juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan.

Hal inilah yang ingin diperkuat Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui pendampingan budidaya padi beras merah lokal di Desa Paya Benua, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

Bacaan Lainnya

Selama ini, masyarakat Paya Benua masih mempertahankan tradisi menanam padi ladang atau dikenal dengan istilah hume. Meski hanya dilakukan sekali dalam setahun, hasil panennya dapat menjadi persediaan beras keluarga petani hingga musim tanam berikutnya.

Tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan pangan lokal yang ingin dipertahankan. Sebab, di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, kemampuan masyarakat memproduksi beras sendiri dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Namun, keberadaan pertanian padi ladang menghadapi tantangan. Salah satunya adalah semakin luasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit yang dikhawatirkan berdampak pada penurunan produksi padi lokal.

Ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UBB, Prof. Dr. Eries Dyah Mustikarini, SP, M.Si., mengatakan, pengembangan padi ladang tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen. Petani juga perlu didorong agar mampu melihat hasil pertanian sebagai potensi ekonomi.

“Akademisi UBB hadir untuk mengubah pola pikir petani agar mau memasarkan produk yang dihasilkan. Kegiatan PKM kemitraan masyarakat telah dilaksanakan selama dua tahun berturut-turut,” ujarnya, Jumat (6/11/2026).

Pada 2025, pendampingan difokuskan pada penerapan Good Agriculture Practice (GAP), mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga sistem tanam jajar legowo.

Hasilnya mulai terlihat melalui panen padi beras merah pada Januari 2026. Pengembangan kemudian dilanjutkan pada tahun ini dengan penerapan teknologi Smart Farming untuk membantu petani mengendalikan hama tikus dan burung serta memantau kesuburan tanah.

Teknologi sensor berbasis Internet of Things (IoT) diperkenalkan agar petani dapat mengetahui kondisi tanah melalui pengukuran tujuh parameter, termasuk suhu, kelembapan, pH dan kandungan unsur hara.

Langkah tersebut diharapkan membuat penggunaan pupuk lebih tepat sasaran sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas pertanian meningkat.

Di sisi lain, hasil panen petani juga mulai diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Melalui pendampingan UBB, beras merah lokal Paya Benua kini dipasarkan dengan nama Beras Merah Benua Cemerlang.

Produk tersebut dijual seharga Rp100.000 per kemasan 5 kilogram. Pemasarannya dilakukan secara daring melalui media sosial dengan konsumen dari berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga, pekerja swasta, mahasiswa hingga dosen.

Kepala Desa Paya Benua, Adeham, menyambut baik pendampingan yang dilakukan UBB. Ia berharap masyarakat tidak meninggalkan budidaya padi ladang karena memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan desa.

“Saya berharap masyarakat terus mempertahankan dan mengembangkan budidaya padi ladang sebagai salah satu upaya menjaga kemandirian pangan desa,” katanya.

Adeham juga menyoroti pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit secara terus-menerus yang berpotensi menimbulkan persoalan bagi pertanian masyarakat, termasuk meningkatnya serangan hama.

Melalui program yang menyasar Kelompok Tani Mandiri pimpinan Komarudin tersebut, UBB berharap petani tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga mengembangkan hasil panen menjadi sumber pendapatan.

Dengan mempertahankan tradisi hume sekaligus meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi beras merah, Desa Paya Benua diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan dari tingkat keluarga hingga desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *