Pangkalpinang, IrroNews.com — Inovasi Daerah Membangun Kebudayaan Daerah dari Sekolah (MKDS) kembali menorehkan prestasi. Pada tahun 2025, program yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang ini meraih penghargaan dengan kategori Sangat Inovatif.
Penghargaan tersebut menjadi yang kedua kalinya diterima MKDS, sejak pertama kali digulirkan sebagai aksi perubahan pada tahun 2022. Penggagas program, Ratna Purnamasari yang akrab disapa Bunda Tudung Saji (BTS), mengungkapkan rasa bangganya atas capaian tersebut.
“Awalnya ini hanya aksi perubahan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Diklat Kepemimpinan Administrator tahun 2022. Alhamdulillah, kini menjadi inovasi daerah yang selalu dirindukan sekolah dan kembali mendapat penghargaan,” ujarnya usai menerima penghargaan.
MKDS dirancang berdasarkan analisis situasi pemajuan kebudayaan daerah di Kota Pangkalpinang, khususnya saat pandemi Covid-19. Di tengah keterbatasan anggaran yang saat itu difokuskan untuk penanganan pandemi, BTS bahkan menggunakan dana pribadi untuk mengikuti diklat sebagai bagian dari proses lahirnya inovasi tersebut.
Dari yang awalnya hanya memiliki dua program unggulan, kini MKDS telah berkembang menjadi enam program yang rutin digelar setiap tahun, yakni:
• Gaseng Masok Sekolah (GMS) — dengan kategori Adu Uri Gaseng (SD) dan Adu Pangkak Gaseng (SMP);
• Dambus Masuk Sekolah (DMS) untuk peserta didik SMP;
• Teater BEGISAH Masok Sekulah (TBMS) bagi siswa SD dan SMP;
• Napak Tilas tingkat SMP/Sarasehan Sejarah bagi guru IPS/Sejarah SD dan SMP serta siswa SMP;
• Pengkal Heritage Bekeca’ untuk peserta didik TK, SD, dan SMP;
• Budayawan dan Sejarawan Masuk Sekolah (BSMS) bagi SD dan SMP.
Program-program tersebut dirancang untuk menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.
Pelaksanaan MKDS melibatkan berbagai pihak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang berkolaborasi dengan sekolah-sekolah sebagai sasaran program, Lembaga Adat MTKAN Kota Pangkalpinang, Pergasi, Pengurus Masjid Kubah Timah, serta sejumlah sponsor dari perbankan dan perusahaan yang sejalan dengan dunia pendidikan anak.
Menurut BTS, kolaborasi menjadi kunci keberlanjutan program, terutama di tengah kondisi efisiensi anggaran yang juga dialami Pemerintah Kota Pangkalpinang pada tahun 2026.
“Dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran dan pelaksanaan Pilkada putaran II, anggaran dinas sangat minim. Rata-rata hanya tersisa untuk alat tulis kantor dan penggandaan. Tapi kami tidak akan patah semangat,” tegasnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, tim MKDS tetap bergerak. Bahkan, saat ini tengah dipersiapkan tiga inovasi tambahan untuk semakin memperkuat pemajuan kebudayaan daerah berbasis sekolah.
BTS menilai, sejak 2020 hingga kini, pemajuan kebudayaan di Kota Pangkalpinang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hal tersebut terlihat dari capaian kinerja serta dokumentasi program yang dapat diakses dan dirasakan manfaatnya oleh berbagai kalangan, mulai dari siswa TK hingga mahasiswa dan dunia kerja.
Ke depan, ia berharap perhatian terhadap sektor kebudayaan semakin diperkuat, termasuk dengan pembangunan gedung kesenian yang representatif.
“PR besar kita adalah belum adanya Gedung Kesenian. Bahkan jika diperlukan, OPD kebudayaan sebaiknya berdiri sendiri, menyesuaikan dengan kementerian yang kini juga sudah terpisah menjadi Kementerian Kebudayaan,” pungkasnya.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari komitmen dan kepedulian terhadap budaya lokal mampu bertahan dan berkembang, sekalipun di tengah berbagai tantangan.














