Bangka Selatan, IrroNews.com – Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (FORDAS Babel) mendorong langkah konkret pemulihan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Nyireh, khususnya di wilayah Sub DAS Kemis. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi dan rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan di Toboali, Senin (9/3/2026).
Audiensi dipimpin Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung sekaligus Ketua FORDAS Babel, Fadillah Sabri, bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Baturusa Cerucuk. Pertemuan tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Hefi Nuranda.
Rapat yang berlangsung di ruang kerja Sekda itu turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Forum DAS Bangka Selatan, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, camat, serta kepala desa di wilayah terkait.
Dalam kesempatan tersebut, FORDAS Babel memaparkan hasil kajian terbaru mengenai kondisi DAS Nyireh yang dinilai memerlukan perhatian serius. Salah satu temuan utama adalah rendahnya tutupan hutan di kawasan tersebut yang saat ini berada di bawah 10 persen.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Baturusa Cerucuk, Eka Widiyastutik, menjelaskan bahwa kondisi tersebut jauh dari standar minimal yang diamanatkan dalam aturan tata ruang.
“Tutupan hutan yang rendah berdampak pada meningkatnya limpasan air permukaan. Saat ini Koefisien Aliran Tahunan DAS Nyireh mencapai 0,45, yang berarti sekitar 45 persen air hujan langsung mengalir di permukaan. Kondisi ini meningkatkan potensi banjir pada musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua FORDAS Babel Fadillah Sabri menekankan pentingnya menjaga kawasan rawa di hulu Sub DAS Kemis. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki fungsi vital sebagai daerah resapan air sekaligus penopang irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bangka Selatan.
Ia menambahkan bahwa aktivitas pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut telah menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari sedimentasi saluran irigasi, penurunan debit air, hingga potensi penurunan produktivitas pertanian.
“Selain persoalan lingkungan, muncul pula konflik sosial terkait klaim kepemilikan lahan serta lemahnya penegakan aturan tata ruang. Oleh karena itu diperlukan kebijakan strategis untuk menghentikan perambahan sekaligus memulihkan fungsi ekologis kawasan rawa,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan Hefi Nuranda menyatakan pemerintah daerah menyambut baik hasil kajian yang disampaikan FORDAS Babel.
Menurutnya, berbagai rekomendasi yang telah disampaikan akan segera dibahas lebih lanjut, termasuk kemungkinan dukungan pendanaan melalui APBD bersama DPRD.
Audiensi tersebut juga ditandai dengan penyerahan dokumen rekomendasi hasil kajian FORDAS Babel kepada Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan dan pemulihan DAS di wilayah tersebut.













