Pangkalpinang, IrroNews.com- Pemerintah Kota Pangkalpinang memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mengejar target eliminasi AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (ATM) pada 2030.
Penguatan tersebut dilakukan dengan mendorong keterlibatan pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan bersama organisasi masyarakat serta berbagai unsur terkait dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Pangkalpinang, Agustu Afendi, mengatakan target eliminasi 2030 membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (PP ATM) di Sun Hotel Pangkalpinang, Selasa (15/9/2026).
“Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya sektor kesehatan,” ujar Agustu.
Menurutnya, pemerintah tingkat kecamatan dan kelurahan memiliki peran penting karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Penguatan di tingkat tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat upaya pencegahan, menemukan kasus lebih awal, memastikan pengobatan serta memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Selain pemerintah, Agustu menilai organisasi kemasyarakatan dan kelembagaan seperti PKK Pokja IV serta Komisi Penanggulangan AIDS perlu dilibatkan secara aktif dalam upaya tersebut.
Ia juga menyoroti persoalan stigma yang masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan HIV/AIDS. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat enggan melakukan pemeriksaan atau terbuka mengenai kondisi kesehatannya.
“HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan sedikit, tetapi di bawahnya sangat banyak karena masih ada stigma dan rasa malu dari penderita untuk melapor,” katanya.
Agustu menyebut tantangan penanganan TBC di Indonesia juga masih cukup besar. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat estimasi sekitar 1,09 juta kasus TBC dengan angka kematian mencapai 125 ribu jiwa setiap tahun.
Sementara itu, untuk HIV/AIDS diperkirakan terdapat sekitar 28 ribu infeksi baru setiap tahun dengan jumlah orang yang hidup dengan HIV mencapai sekitar 570 ribu orang.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat deteksi dini dan memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan tanpa diskriminasi.
Dalam kesempatan itu, Agustu juga menyampaikan bahwa dukungan Global Fund telah berkontribusi terhadap berbagai program penanggulangan AIDS, TBC dan Malaria di Indonesia. Dukungan tersebut antara lain mencakup penyediaan obat-obatan, pemeriksaan diagnostik, layanan konseling, peningkatan kapasitas tenaga medis serta penguatan sistem kesehatan.
Namun, ia menekankan keberhasilan program tetap membutuhkan komitmen pemerintah daerah dan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, hasil pertemuan forum kemitraan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan koordinasi. Agustu meminta hasil pembahasan dapat diterjemahkan menjadi komitmen dan program yang dapat diterapkan di tingkat kecamatan maupun kelurahan.
Ia juga mendorong agar hasil forum disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Wali Kota Pangkalpinang sebagai bahan penguatan dukungan penganggaran program pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC dan Malaria.
“Marilah kita bekerja sama, saling bergandengan tangan untuk mengoptimalkan peran dan kontribusi dalam menuntaskan kasus AIDS, TBC, dan Malaria menuju eliminasi tahun 2030,” tutup Agustu.






