Pangkalpinang, IrroNews.com — Seratus hari pertama kepemimpinan Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin dan Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna diwarnai langkah cepat dalam merespons persoalan banjir dan lingkungan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
Sejak dilantik pada 15 Oktober 2025, Prof Udin dan Cece Dessy langsung menghadapi banjir akibat curah hujan tinggi di sejumlah wilayah kota. Keduanya turun langsung ke lapangan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal.
“Sejak hari pertama kami bekerja, banjir menjadi perhatian utama. Kami tidak ingin hanya menerima laporan, tetapi melihat langsung kondisi warga di lapangan,” ujar Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin, Minggu (25/1/2026).
Pemerintah Kota Pangkalpinang memetakan wilayah terdampak banjir, mengerahkan personel gabungan lintas sektor, serta menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak juga dibangun untuk mempercepat pemulihan pascabanjir.
Dalam upaya pencegahan jangka panjang, Pemkot Pangkalpinang menggalakkan budaya gotong royong. Kegiatan bersih lingkungan dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat RT dan RW.
“Masalah banjir tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Dibutuhkan peran serta masyarakat untuk menjaga lingkungan masing-masing,” kata Prof. Saparudin.
Upaya penanganan banjir juga disuarakan ke pemerintah pusat. Prof. Saparudin menyampaikan langsung kebutuhan infrastruktur pengendalian banjir kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), agar mendapat dukungan anggaran melalui APBN.
“Kota Pangkalpinang sangat membutuhkan dukungan infrastruktur dari pemerintah pusat agar masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Di bidang pengelolaan lingkungan, Pemkot Pangkalpinang kembali mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kawa Begawe di Kelurahan Selindung pada Januari 2026, setelah beberapa tahun tidak berfungsi.
“Sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tapi harus menjadi potensi. TPS3R ini kita operasikan untuk mengurangi residu dan memberi nilai tambah,” ujar Prof. Saparudin.
TPS3R Kawa Begawe ditargetkan mampu mengolah hingga 10 ton sampah per hari. Pengelolaan sampah organik dilakukan bekerja sama dengan Forum Masyarakat Peduli Sampah (Formap) yang telah berpengalaman selama enam tahun.
“Kalau kita punya 10 TPS3R seperti ini, masing-masing 10 ton per hari, maka persoalan sampah di Pangkalpinang bisa kita selesaikan,” jelasnya.
Selain TPS3R Kawa Begawe, dua TPS3R lainnya di Genas dan Semabung juga akan segera dioperasikan.
“Dengan semakin banyak TPS3R yang berjalan, semakin sedikit sampah yang menjadi residu,” pungkas Wali Kota. (Ir)














