Jakarta, IrroNews.com — Usia bukan menjadi penghalang untuk terus menimba ilmu. Hal ini dibuktikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Dr. Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM., yang resmi meraih gelar doktor di usia 55 tahun.
Gelar tersebut diperoleh setelah menjalani Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi S3 Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa (5/5/2026). Sidang berlangsung di Auditorium dr. Syafri Guricci, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UMJ.
Dalam sidang tersebut, Fadillah Sabri mempresentasikan disertasi berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Program Unggulan, Dukungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah terhadap Peningkatan Kepercayaan Masyarakat, dan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan SMA Muhammadiyah Toboali Kabupaten Bangka Selatan.”
Dengan penuh ketenangan, ia berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji hingga akhirnya dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor.
Namun lebih dari sekadar capaian akademik, Fadillah menekankan bahwa perjalanan ini adalah bentuk komitmen terhadap semangat belajar sepanjang hayat.
“Abi saja bisa jadi doktor, nak, sudah berusia 55 tahun, tetapi tidak mengurangi semangat. Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua,” ujarnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Istri, anak-anak, serta sejumlah tokoh Muhammadiyah turut hadir memberikan semangat langsung dalam sidang tersebut.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unmuh Babel, Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd., menyampaikan harapannya agar capaian ini membawa keberkahan yang lebih luas.
“Kami berharap capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga memberi kontribusi bagi kemajuan institusi,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Ketua PDM Bangka Selatan, Sumadi, S.Pd., M.M., yang wilayahnya menjadi lokasi penelitian disertasi.
“Semoga ke depan beliau semakin berkarya dan hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain,” ujarnya.
Sementara itu, promotor Prof. Dr. Iswan, M.Si., secara resmi mengesahkan gelar doktor yang diraih, ditandai dengan pemindahan kuncir toga sebagai simbol akademik. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas atas gelar yang telah diperoleh.
“Gelar doktor akan melekat sepanjang hayat, sehingga harus dijaga dengan tanggung jawab, baik secara pribadi, keluarga, maupun institusi,” tegasnya.
Capaian ini menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia, sekaligus menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah.














